Negara-negara Asia Timur enggan menambah masalah dengan membuka pintu bagi Amerika dan Uni Eropa

Sekalipun Jepang punya mimpi-mimpi indah mengembangkan komunitas Asia Timur; tapi mimpi hanyalah sepenggal khayalan. Bagai sushi salmon yang tersaji mentah, konsep komunitas regional ekonomi yang terbentang antara negara-negara Asean dengan Jepang, China, Korea Selatan (Korsel), India, Australia serta Selandia Baru ini masih jauh dari matang.
Berpayung label East Asia Summit (EAS), konsep regional ini kembali mengemuka di pertemuan Asean ke-15 di Hua Hin, Thailand minggu lalu. Jepang hadir dengan ide membuka pintu EAS bagi Amerika, untuk kemudian diikuti “negara-negara lainnya”, yaitu Uni Eropa (UE). Hatoyama pada Japan Today mengatakan hubungan Tokyo-Washington adalah batu penjuru diplomasi Jepang, yang berarti Paman Sam sebaiknya diajak dalam EAS selanjutnya.
Tapi ide Jepang mendapat tanggapan dingin. Bukan hanya dari negara-negara Asean, tapi juga dari negara patner lainnya yang juga memiliki hubungan dekat dengan Amerika seperti Korea Selatan.
“EAS baru saja diluncurkan, jadi mungkin kita perlu ‘kematangan” yang lebih diantara kita sendiri. Dan tentu saja banyak hal yang masih harus didiskusikan di kawasan ini,” kata Menteri Perdagangan Korsel Jong Hoon Kim, ditemui usai penutupan pertemuan Hua Hin.
Menurutnya, seperti halnya China dan India, Korsel akan lebih fokus memberikan komitmen bantuan dana dan pinjaman bagi Asean demi “pematangan” konsep regional Asia Timur. Ketimbang buru-buru mengundang Amerika dan UE bergabung.
Sikap Jong yang selaras dengan pernyataan negara-negara anggota EAS lainnya ini punya alasan kuat. Masih banyak masalah yang mengganjal diantara anggota EAS. Dimulai dari internal Asean, negara-negara anggota masih bergelut mencapai integrasi ekonomi 2015. Indonesia dan Filipina berusaha menunda pembebasan tarif komoditas sensitif seperti beras dan gula Thailand, sementara oposisi Kamboja justru meminta pemerintahnya menunda menurunkan semua tarif mulai tahun depan, karena ekspor mereka ke Thailand dan Vietnam merosot tajam pasca krisis global.
Kisah serupa juga terjadi antara Indonesia, Malaysia dengan India, terimbas keengganan negeri Bombay menurunkan tarif masuk minyak kelapa sawit mentahnya sebelum 2018. Perdana Menteri India Mahmohan Singh dalam pertemuan pers di Hua Hin menyatakan, sekalipun India telah menandatangani perjanjian perdagangan bebas dengan Asean, pemerintah mereka akan tetap memberlakukan tarif istimewa untuk 418 jenis komoditas “sensitif”.
Kerumitan kepentingan ekonomi ini membuat persiapan integrasi ekonomi Asean pun tak semudah membalikkan telapak tangan. Hingga September 2009, kesiapan implementasi negara-negara anggota memenuhi cetak biru integrasi Asean 2015 rata-rata baru 73.79 persen, dan untuk Indonesia sekitar 80.95 persen. Ini kabar buruk, karena penurunan tarif menuju tarif bebas ASEAN akan dimulai Januari tahun depan.
“Dalam pembahasan tingkat kepala negara (di Hua Hin) telah disebutkan bahwa menteri-menteri ekonomi harus bisa memenuhi implementasi cetak biru ini,” kata Menteri Perdagangan Marie Pangestu.
Dari Indonesia, halangan implementasi cetak biru integrasi Asean menurut Marie disebabkan buruknya infrastruktur dan tarif khusus bidang kesehatan. Marie tak menyanggah, negara-negara kecil dengan struktur pemerintahan sederhana seperti Brunei, Kamboja atau Singapura bisa lebih mudah memenuhi target implementasi ini daripada Indonesia, Thailand atau Malaysia.
Sementara Myanmar masih jadi anak bawang, yang target implementasinya tersendat mulai dari infrastruktur, barang dan jasa hingga sistem bea cukai Jendela Tunggal Asean. Pemerintahan otoriter Than Swe yang tertutup secara politik dan ekonomi menjadi kendala tunggal, sehingga jaringan internet pendukung Sistem Jendela Tunggal Asean pun ikut terblokade pemerintah. Dan Asean tak bisa berbuat banyak kecuali diplomasi persuasif, terhalang prinsip “tak mencampuri urusan dalam negeri anggota”.
Di luar Asean, perseteruan juga terlihat antara India dan China. Selama pertemuan Hua Hin, Perdana Menteri Mahmohan Singh secara khusus menyempatkan diri bertemu Perdana Menteri China Wen Jia Bao selama 45 menit. Inti pertemuan itu hanya satu: untuk menunjukkan pada pers, hubungan China dan India yang tegang akibat isu Dalai Lama dan perbatasan, tak akan menghalangi arus perdagangan bilateral senilai US $ 60 miliar pertahun.
“India akan tetap menerima hangat Dalai Lama, karena dia tamu negara dan itu bukan masalah. Dalam perbincangan kami, pihak China juga sama sekali tidak menyinggung soal ini. Kami sepakat, semua masalah lain juga masalah perbatasan, akan dibahas dalam kunjungan menteri luar negeri China ke India akhir Oktober ini,” kata Singh.
Semua halangan ini tak pelak membuat Indonesia dan negara-negara EAS selain Jepang dan Australia tak berminat menambah kerumitan dengan mengundang Amerika dan UE. Apalagi, dua kubu barat tersebut terkenal “gemar” menggunakan ekonomi sebagai alat mencapai kepentingan politiknya.
“Karena itu, kita, Indonesia dan negara-negara Asean lainnya pada dasarnya terbuka menerima negara manapun untuk bergabung dalam EAS. Tapi tentu saja, hanya jika mereka bersedia menerima 'aturan main' kita,”kata Marie.
****
Edisi cetak dimuat di Jurnal Nasional,Tuesday, 27 Oktober 2009
Read More..