Tuesday, August 28, 2007

Pahit Manis Investasi China di Afrika


Selama tak ada pesaing, China bebas mengekspansi benua hitam Afrika.

Dua bendera berkibar di lapangan pabrik tekstil di Zambia. Yang satu bendera Zambia dan yang satu lagi adalah bendera China. Pabrik ini menjadi bukti ekspansi ekonomi global China. Tapi Pabrik tekstil Zambia China Mulungushi ini berbeda dengan pabrik tekstil lainnya. Tak seperti pabrik yang produktif pada umumnya, lapangan depan Pabrik Mulungshi sangat sepi. Kibaran kedua bendera sampai-sampai terdengar.

Pabrik ini memang hanya sekali-sekali digunakan. Ketika dibuka 20 tahun yang lalu, produksi sangat sibuk. Dengungan mesin tenun mekanik menghasilkan ribuan yar kain Afrika yang berwarna-warni. Tapi sekarang, hanya mesin penenun katun yang masih tetap bekerja.

New York Times melaporkan, China hanya menggunakan pabrik ini untuk menghasilkan katun polos. Kain tersebut kemudian diekspor ke negeri tirai bambu sebagai barang setengah jadi. Setelah jadi, kain-kain ini diekspor lagi ke seluruh dunia termasuk benua Afrika.

“Kami kembali lagi seperti dulu,” kata Wilfred Collins Wonani, Kepala Kamar Dagang Zambia. Menurut Wonani, ekspansi ekonomi China telah menyebabkan mereka hanya mengekspor barang mentah dan mengimpor barang jadi. “Ini bukan kemajuan, ini kolonialisasi,” katanya. Apalgi, pengurangan produksi di pabrik tekstil Mulungushi menyebabkan pengurangan pegawai.

Ekspansi ekonomi dan politik China di Afrika sebenarnya telah lama berlangsung. Le Monde mencatat, minat China akan Afrika dipicu pertama kali oleh Perang Dingin. Saat itu China berusaha mencari patner bisnis global diluar negara-negara yang jadi rebutan Barat dan Soviet. Keterbukaan China akan ekonomi era Den Xiao Ping membuat negara ini memerlukan lebih banyak minyak dan barang mentah untuk embrio industri mereka. Bersamaan, China juga membutuhkan pasar bagi produk mereka nanti. Dan pasar yang belum diobrak-abrik Barat atau Soviet adalah Afrika.

Mencontoh gaya ekspansi ekonomi barat, China menjanjikan dan bantuan pembangunan bagi negara-negara Afrika bersamaan dana investasi mereka. Pada Desember 2006, Le Monde melaporkan China membantu pembangunan infrastruktur gedung pemerintahan Angola sebesar $ 2 milyar. Sebagai balasannya, China menerima kiriman minyak mentah 10 ribu barel perhari. Pada tahun yang sama, Beijing juga mengadakan pertemuan tahunan ketiga Forum on China Africa Cooperation (FOCAC). Pertemuan yang membahas ekonomi-politik ini memperkuat kerjasama negeri tirai bambu dengan 48 negara di seluruh benua Afrika.

Tahun ini, menurut New York Times, China telah membangun 20 milyar dollar perdagangan finasial dan infrastruktur di benua Afrika. Di Zambia saja misalnya, China telah menginvestasikan $800 juta untuk beberapa tahun ke depan.

Semua yang ditabur akan dituai. Bersamaan dengan itu, ekspor China ke benua ini turut meningkat. Barang-barang jadi asal China yang dijual dengan harga murah-T-shirt, senter, radio, kaos kaki dan lainnya-membanjiri benua Afrika.

“Kebanyakan negara-negara Afrika baru merdeka selama 30-35 tahun,” kata Moeletsi Mbeki, pengusaha asal Afrika Selatan kepada New York Times. Menurutnya, dalam usia muda ini negara-negara Afrika masih mengalami kegagalan membangun industri mereka sendiri. Alasan masing-masing negara pun beragam. Ada yang tercabik-cabik perang saudara seperti Angola atau Sierra Leone. Atau gara-gara kalah bersaing di dunia global dan terlimbas inflasi layaknya Ghana dan Tanzania. Bahkan “negara emas” Afrika Selatan masih bergelut dalam masalah inflasi dan kenaikan pengangguran. “Bagi China kegagalan Afrika ini sama dengan peluang besar. Kami adalah pasar penting bagi China,” kata Mbeki.

World Bank mencatat investasi China di Afrika di pertengahan tahun 2006 telah mencapai $1.18 milyar. Ini menjadikan China bersama India sebagai patner dagang ketiga terbesar Afrika setelah Uni Eropa dan Amerika. Sekitar 450 perusahaan dagang bertumbuhan di jalur empat negara Afrika: Afrika Selatan, Tanzania, Ghana dan Senegal. Dan sebagian besar perusahaan ini berasal dari China dan India. Harry Broadman dalam Africa’s Silk Road: China and India’s New Economic Frontier menyatakan meroketnya perdagangan dan investasi Asia di Afrika menjadi tren perdagangan global saat ini. Broadman memprediksi masih sekurangnya 16 perusahaan China lainnya akan ikut merambah benua hitam.

“ Tak diragukan, China sangat bagus buat Zambia,” kata Felix Mutati,Menteri Keuangan Zambia. Ia menyatakan, selama ini negaranya telah lama berkoloni dengan Perancis dan negara barat tapi tidak membawa kemajuan apa-apa. Berbeda dengan China yang datang dengan investasi teknologi tinggi, peluang kerja dan kemajuan infrastruktur. “Apalagi yang kurang?”,kata Mutati.

Tanggapan positif ini menurut BBC telah membuat negara Eropa dan Amerika kebakaran jenggot. Meski China dinyatakan hanya berniat melakukan ekspansi ekonomi dan bukan politik. Le Monde melaporkan hasil analisa pengamat Amerika; “Selama Perang Dingin, China ke Afrika berdasarkan ideologi. Tapi sekarang murni untuk mencari laba.”

Pengamatan lapangan New York Times melaporkan, perusahaan China memang berpeluang lebih besar untuk mengekspansi Afrika. Perusahaan barat dan Eropa harus bersusah payah membangun aneka fasilitas bagi para pekerja. Atau para pekerja migran Eropa dan Amrerika tidak akan bersedia datang. Berbeda dengan para pekerja migran China yang cukup puas tinggal di barak. Hiburan pun cukup berupa lapangan sepakbola dan meja pingpong.

Tetap tak bisa disangkal, negara-negara Afrika dengan latar belakang kolonialisasi barat bagai balas dendam dengan menyambut negeri tirai bambu ini. Ketika Presiden China Hu Jin Tao berkunjung ke Zambia, New York times melaporkan Jin Tao mendapatkan perlakuan istimewa dari Presiden Zambia Levy Mwanawasa. Situs Kementrian Luar Negeri China melaporkan pada awal Agustus ini, Zambia juga mengumumkan mendukung kebijakan “satu China”. Negara ini tidak mengakui kedaulatan Taiwan. Berbeda dengan India, China juga melandasi ekspansi ekonominya di Afrika dengan dukungan kerjasama politik.

Ekspansi China juga tak dapat dipungkiri telah membawa Afrika menikmati kemajuan. Zambia misalnya, mengalami kenaikan ekonomi sejak kerjasama dagang dengan China. Harga gabah naik dari 75 sen di Januari 2003 menjadi $3 perpon tahun ini akibat permintaan tinggi dari China. Sementara Perusahaan China Nonferrous Metal membeli pertambangan di Chambishi di tahun 1998. Pabrik ini menyerap 6 ribu tenaga kerja dan menjadi area ini menjadi produktif.

Selain itu, banjirnya barang elektronik murah ke pasar Afrika, menurut New York Times membuat masyarakat Afrika mampu memiliki mimpi mereka. Selama ini barang seperti telepon seluler, televisi, mesin cuci atau komputer hanya bisa dinikmati lewat film belaka. Menurunnya harga barang seperti pakaian, bola lampu dan sepatu misalnya, membuat rakyat Afrika mampu menyisihkan uang mereka dan membeli perangkat elektronik.

“Kamu tak bisa menyalahkan China jika mereka sangat kompetitif. Mereka hanya melakukan apa yang negara lain buat di dunia pasar bebas saat ini,” kata Martyn J. Davies, Dierktur Pusat Studi China di Universitas Stellenbosch, Afrika Selatan pada New York Times. Ucapan Davies ini untuk menanggapi sikap antipati China yang mulai bermunculan di Afrika. Memang tak dapat disangkal, dibalik manisnya buah investasi China rakyat Afrika tetap harus mereguk pahit.

Sejak 1980, sebenarnya Afrika telah menandatangani kesepakatan melindungi pasar Eropa dan Amerika. Namun kesepakatan tersebut kadaluarsa di Januari 1995. Pintu ekspor tekstil dan garmen pun terbuka lebar bagi China. Tingkat pengangguran Afrika yang tinggi membuat China bebas menentukan upah kerja.

Adalah Zimba, 40 tahun, seorang wanita pekerja di pabrik Mulungshi. Ia bekerja sejak tahun 1989 di bagian kontrol kualitas produksi dan memperoleh gaji kurang dari $ 100 per bulan. Zimba juga tak mendapat tunjangan pensiun atau kesehatan.

Sejak China mengambil kebijakan mengurangi produksi di pabrik Mulungshi, Zimba harus merelakan pekerjaannya. Bagi Zimba, China bagaikan “investor tas koper”. “Mereka datang dengan tas-tas koper, mengisinya dengan kemakmuran kami dan pergi begitu saja,” kata Zimba.

Manajer Tambang Chambishi, Han Yaping mengakui jika upah antara penduduk lokal Zambia dengan pekerja China memang berbeda. Menurutnya perbedaan ini disebabkan adanya tingkat keterampilan pekerja itu sendiri. “Jika pekerja China membuka baut dengan obeng, maka pekerja Zambia menggunakan jari-jari mereka,” katanya bermetafora, seperti yang dikutip New York Times. Han menolak perbedaan ini disebabkan adanya perbedaan ras. Para pekerja imigran China di Afrika menurutnya datang berdasarkan niat kerjasama dengan Zambia. “Kami disini atas dasar pertemanan,” tegas Han.

Pada tahun 2005, kecerobohan akan keselamatan kerja di tambang Chambishi memakan korban. Tambang ini meledak dan membunuh 46 orang, yang rata-rata berumur 20 tahun. China memang tak pernah mendapat tekanan akan keselamatan kerja dari pemerintah setempat.

Selain itu Le Monde mencatat defisit Afrika Selatan akibat masuknya produk China meningkat dari $ 24 juta di tahun 1992 menjadi $ 400 juta di September 2004. Tahun yang sama Konggres Uni Perdagangan Afrika Selatan menyatakan boikot atas produk China. Mereka menyalahkan negara ini atas peningkatan jumlah pengangguran di negara mereka. Kenyataan lain juga tak dapat dielak jika China juga mereguk keuntungan $ 1 milyar dari suplai senjata dalam perang Eritiria, Afrika di akhir 1990-an.

China menanggapi semua keluhan ini dengan melandaskan semangat Asia Afrika yang dicetuskan di Bandung, Indonesia. Le Monde melaporkan pemerintah China mulai mengerahkan bantuan bagi pembangunan negara-negara Afrika. The Chinese government’s African Human Resources Development Fund membiayai beasiswa 10ribu orang Afrika untuk menjalani pelatihan di Beijing tahun ini. Dari Liberia hingga Republik Demokrat Kongo, China juga meningkatkan kiriman tentara perdamaiannya. Dibawah bendera PBB, China mengirim lebih dari 1500 tentara ke seluruh benua ini. Selain itu, China juga mendukung tiga negara Afrika untuk masuk dalam dewan keamanan PBB. Negara tersebut adalah Afrika Selatan, Mesir dan Nigeria.

Namun selama tidak adanya pesaing lain China tetap bebas mengekspansi Afrika. “Biarkan China datang,” kata Mahamat Hassan Abakar, pengacara di Chad, Koloni Perancis di Afrika Tengah. Menurutnya, apapun caranya Afrika tetap memerlukan investasi dan bukan janji-janji Barat. “Selama ini kami menjalin koloni erat dengan Perancis, tapi apa yang mereka perbuat bagi kami selama ini?”, tanyanya. Investasi China memang pahit, namun manis tetap bisa dinikmati.

***
Dimuat di Jurnal Nasional, halaman jurnal internasional

Utang Pemanasan Global Amerika

Joseph Stiglitz memaparkan kebijakan politik berbasis ekonomi Amerika Serikat di balik isu pemanasan global.

Desember 1997, negara-negara yang tergabung dalam UNFCC berkumpul di Kyoto, Jepang. Para pemimpin negara ini sepakat menandatangani protokol Kyoto yang diadopsi dari Pertemuan Bumi di Rio de Janerio tahun 1992. Pernyataan pers PBB menyatakan protokol ini merupakan persetujuan negara-negara industri untuk mengurangi emisi gas rumah kaca mereka secara kolektif sebesar 5.2 % dari tahun 1990. Gas yang jadi kambing hitam pemanasan bumi ini antara lain berupa karbon dioksida, metan, nitrous oxide, sulfur heksafluorida, HFC dan PFC. Target Kyoto adalah pengurangan 8 persen untuk Uni Eropa, 7 persen untuk Amerika Serikat, 0 persen untuk Rusia dan batas penambahan emisi yan gdiijinkan untuk Australia sebesar 8 persen dan 10 persen untuk Islandia.

“Protokol Kyoto telah mengalami kegagalan,” kata Joseph Stiglitz, penerima nobel ekonomi 2001 dan kritikus kebijakan pemansan global..Kegagalan menurut Stiglitz jelas terlihat dari ketidakpatuhan negara-negara dunia menerapkan isi protokol Kyoto. Apalagi, mendekati 2010, target Kyoto masih jauh panggang dari api. Perjanjian lingkungan hidup ini ketinggalan jaman, sejak terbukti emisi gas rumah kaca tidak hanya berasal dari perindustrian saja. Organisasi Peace menyatakan Indonesia dan Brazil menduduki peringkat 3 dan 4 negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar dunia. Namun keduanya sama-sama negara berkembang dan memproduksi gas emisinya dari pembakaran hutan. “Protokol Kyoto hanya sampai pada penyampaian pesan akan pentingnya isu pemanasan global pada dunia,”kata Stiglitz.

Berawal dari penolakan Amerika Serikat ikut serta dalam protokol Kyoto, sejumlah negara lain di dunia mengikuti jejak Paman Sam. BBC melaporkan, Australia adalah salah satunya. Perdana Meneri Australia John Howard terang-terangan menyatakan negaranya tidak akan mematuhi isi protokol Kyoto selama Amerika tetap kukuh menolak. “Tidak ada gunanya Australia ikut, selama negara polutan terbesar dunia tidak mendukung protokol itu,” tegas Howard.

Amerika menurut Stiglitz adalah negara industri yang masih memiliki pandangan fundamental. “Mereka masih mempercayai teknologi industri yang banyak memakan bahan bakar bakar fosil,” kata Stiglitz. Saat Eropa dan Jepang mulai memproduksi mobil-mobil kecil yang irit bahan bakar fosil, Paman Sam justru melakukan sebaliknya. Autonet menyebutkan mobil-mobil produksi Amerika semisal Ford atau General Motor rata-rata menghabiskan lebih banyak bahan bakar dibandingkan mobil Eropa, Jepang atau Korea.

“Kebiasaan ini ada kaitannya dengan kebudayaan Amerika sendiri,” kata Emil Salim, pakar lingkungan hidup. Menurutnya dibandingkan negara-negara lain di dunia, penduduk Amerika cenderung menggunakan kendaraan besar. Kendaraan yang menghabiskan lebih banyak bahan bakar fosil ini menjadi simbolisme maskulinitas ala Amerika.

Pemerintahan Bush telah mengambil kebijakan tidak akan “memaksakan” peraturan pengurangan emisi pada industri Amerika. Keputusan menerapkan teknologi ramah lingkungan pada industri hanya didasarkan pada kesukarelaan masing-masing perusahaan. Pemerintahan Bush juga mempertahankan Undang-undang pertambangan Amerika yang telah ketinggalan jaman. UU yang dibuat tahun 1872 ini sama sekali tidak mengharuskan perusahaan tambang Amerika memperhatikan atau mengurus dampak kerusakan lingkungan sekitar area tambang. New York Post mencatat hingga tahun 2006 sekitar 500 ribu area bekas tambang di Amerika terbengkalai.

“Bush berasal dari latar belakang keluarga yang dekat dengan industri minyak, dan ia sendiri seorang yang berpandangan fundamentalis untuk masalah ini,” Stiglitz menjelaskan. Bush meniti karier politiknya sebagai Gubernur Negara Bagian Texas di tahun 1994. Selama masih kuliah, Bush juga sempat bekerja di bisnis minyak milik keluarganya. Tak heran jika Bush tak ingin isu pemanasan global menggoncang bisnis minyak Amerika.

Padahal menurut laporan terakhir organisasi Peace, paman Sam hingga tahun 2007 masih menduduki peringkat pertama negara penghasil emisi karbon dioksida terbesar. Serupa dengan China di posisi kedua, emisi Amerika sebagian besar berasal dari pemakaian energi negara tersebut. Dan penyerapan energi terbesar berasal dari lingkungan industri. “Amerika akan setuju dengan peraturan pemanasan global apapun selama itu tidak berpengaruh pada industrinya,” tegas Stiglitz.

Memang tak semua politisi negeri ini mendukung kebijakan Bush. Politikus Al Gore kini lebih dikenal sebagai aktivis lingkungan hidup. Film dokumenter Unconvinient Truth mengenai pemanasan global karyanya bahkan meraih penghargaan Academy Award 2007. Secara pribadi Al Gore juga memilih menggunakan mobil Hibrid yang lebih ramah lingkungan. Menurut majalah Forbes, Gore sebenarnya telah berusaha memaksa Amerika menerima protokol Kyoto sejak tahun 2000. Namun ia kalah dalam perebutan kursi kepresidenan, dan Amerika tetap menerapkan kebijakan lingkungan “sukarelanya.”

“Pemanasan global terlalu besar untuk hanya diandalkan pada itikad baik saja,” kata Stiglitz. Ia menaruh harapan besar pada kaum demokrat pada pemilu 2008 nanti. Menurutnya pergantian pucuk pimpinan bisa berarti pergantian sikap konvensional Amerika menjadi lebih terbuka atas isu pemanasan global. “Bagaimanapun sebenarnya Amerika mampu membiayai industri yang ramah lingkungan,” tegas Stiglitz.

Mampu tapi tak mau. Tak bisa diingkari perubahan teknologi tetap akan memakan biaya tambahan. “Semuanya tetap soal uang,” kata Emil Salim. Misalnya sampai saat ini batubara masih menjadi bahan bakar termurah. Mineral ini ideal untuk pembangkit energi meskipun menghasilkan emisi karbon dioksida terbanyak diantara bahan bakar fosil lainnya.

Berupaya memecahkan masalah, Stiglitz mengemukakan solusi pemanasan global yang berbasis ekonomi. Menurutnya masalah terletak pada keengganan negara dan perusahaan polutan secara sukarela membayar dampak sosial marjinal. Polusi akibat emisi karbon tak bisa diingkari berdampak langsung terhadap lingkungan sosial. Menurut Environmental Working Group dan Pew Campaign for Responsible Mining jumlah klaim terhadap pertambangan Amerika naik dari 207.504 di 2003 menjadi 376.500 di tahun ini.

“Solusinya, perusahaan-perusahaan ini harus dipaksa membayar biaya marjinal itu lewat pajak,” kata Stiglitz. Ukuran besar kecilnya pajak, menurut dosen Universitas Columbia ini akan ditentukan lewat dampak reduksi emisi sesuai yang dicita-dicitakan protokol Kyoto.

Dilain pihak, Stiglitz juga mempertimbangkan “keadilan” bagi negara-negara yang diminta mempertahankan hutannya. Laporan Greenpeace menyatakan pada tahun 2006 hutan tropis Amazon berkurang 25 persen dari luasnya semula. Meskipun pemerintah Brazil telah berkomitmen akan mengurangi pembalakan hutannya.

“Mempertahankan hutan berarti mengurangi kesempatan membuka lahan untuk pertanian, tapi mengapa tidak ada kompensasi bagi negara-negara yang melakukannya?”, kata Emil Salim. Dalam makalah Economics and Politics of Gobal Climate, Stiglitz mengemukakan solusi insentif berbasis pasar. Selain pengenaan pajak untuk setiap emisi karbon dioksida, perlu diterapkan penyeimbang berupa subsidi dan tukar menukar teknologi antara negara-negara dunia.

Untuk ini, setiap negara berkembang menurut Stiglitz memerlukan insentif untuk melakukan efesiensi energi. Demikian, Amerika sebagai negara maju tak hanya harus berkomitmen pada reduksi emisi karbon dalam negeri saja.

“Negara maju punya kewajiban mendukung negara-negara berkembang mengurangi emisi karbon mereka,”kata Stiglitz. Ia menegaskan negara-negara berkembang tidak akan mampu menerapkan kebijakan ramah lingkungan. Dukungan ini terutama berupa transfer teknologi. Meninggalkan Paman Sam dalam dua utang pemanasan global: mengurangi emisi dalam negeri dan kewajiban memberi insentif lingkungan pada negara berkembang.

***

Dimuat di Jurnal Nasional Halaman Jurnal internasional

Thursday, August 23, 2007

Tibet Protes Olimpiade Beijing


Ditengah antusiasme persiapan olimpiade, China banyak diprotes soal Tibet.

Lapangan Tiananmen, Beijing marak dengan festival 8 Agustus lalu. Orang-orang berdatangan dari pelosok China guna merayakan satu tahun perhitungan mundur menuju olimpiade Beijing 2008.

Bersama-sama, mereka menghitung mundur detik pada jam di depan Musium nasional China. Layaknya tahun baru, kembang api segera mengangkasa dan Tianamen penuh dengan sorak-sorai. Keramaian telah dimulai pukul 8 diawali tarian yang membawa bendera China, logo olimpiade Beijing dan bendera komite olimpiade. Untuk selanjutnya, jam akan terus menghitung mundur hingga sampai waktunya perhelatan olahraga ini dimulai.

Beijing ingin menyatakan keseriusannya menyelenggarakan olimpiade. Di luar tradisi olimpiade, Pemerintah China tidak hanya menggunakan satu maskot saja. China menghadirkan lima maskot sekaligus yang disebut fuwa. Para fuwa ini diambil dari tradisi lukisan China tradisional.

Masing-masing nama mereka-beibei, jingjing, huanhuan, yingying, nini- jika digabung akan membentuk ucapan Bei Jing Huan Ying Ni atau selamat datang di Beijing. Masing-masing fuwa pun mewakili bentuk hewan yang memiliki arti simbolis dalam kultur China.

Adalah Yingying, si antelop Tibet. Maskot ini berwarna oranye, dan digambarkan selalu dalam posisi berlari. Dalam kebudayaan China antelop menyimbolkan kecepatan dan kekuatan tubuh manusia. Pose Yingying yang setengah melayang, diambil dari esensi unik kebudayaan Qinghai-padang rumput Tibet. Sebagai salah satu hewan langka yang dilindungi pemerintah, Yingying juga mewakili komitmen China pada dunia internasional untuk mengkonservasi lingkungannya.

Kehadiran Yingying sebagai maskot juga mewakili eksistensi Tibet sebagai bagian dari China. Pendudukan China atas Tibet dimulai sejak pasukan People’s Liberation Army memasuki wilayah negara ini pada tahun 1950. Saat itu pemerintah China beralasan tindakan ekspansi ini bertujuan membawa wilayah Himalaya menuju kemakmuran. Pemimpin spiritual Tibet Dalai Lama akhirnya terpaksa melarikan diri ke luar negeri. Hingga kini Dalai Lama terus berpindah negara sebagai lambang penolakan rakyat Tibet atas pendudukan China.

Meski demikian China tetap resmi menganggap Tibet sebagai wilayah negaranya. Tahun lalu China sempat meminta pengakuan masyarkat internasional akan Tibet lewat cara yang unik. Mereka mengajukan permintaan resmi mengganti judul komik “Tintin in Tibet” menjadi “Tintin in China”. Namun pemerintah Belgia menolak mengotak-atik komik karya Herge tersebut.

Memang tak semua orang setuju dengan pemerintah China. Tepat setahun sebelum Olimpiade Beijing 2008 diadakan, 8 Agustus lalu enam aktivis merayakannya dengan memasang poster “One World One Dream Free Tibet” di dinding Tembok Besar China. One world, one dream adalah semboyan yang akan digunakan selama olimpiade berlangsung. Situs resmi olimpiade Beijing 2008 menyatakan semboyan ini melambangkan esensi nilai Olimpiade yaitu persatuan, persaudaraan, kemajuan, harmoni, partisipasi dan mimpi.

Alih-alih menerjemahkannya sebagai persaudaraan antara Tibet dan China, keenam aktivis asal Amerika, Kanada dan Inggris tersebut malah menggunakan slogan ini sebagai protes. BBC melaporkan para aktivis ini menuding China tak layak menyelenggarakan olimpiade. Negara tirai bambu ini dianggap telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia dengan merebut kemerdekaan bangsa Tibet.

Keenam demonstran sebelumnya menemui gerakan aktivis Students for Free Tibet. Reuters melaporkan, para aktivis ini memegang bendera nasional Tibet sambil menyanyikan lagu tradisional Tibet sambil menuju Tembok Besar.

Para demonstran ini berada di Tembok Besar selama dua jam lebih sebelum akhirnya ditangkap polisi setempat. Mereka berteriak-teriak, menyatakan China telah menggunakan olimpiade sebagai alat melegitimasi Tibet. Selain keenam aktivis nekat ini, protes juga berdatangan dari organisasi Amnesti Internasional dan dari organisasi Reporter Tanpa Batas Negara.

China selama ini juga telah membatasi kerja para jurnalis mereka,” kata Irene Khan Sekretaris Jendral Amnesti Internasional kepada BBC. Selain itu, Khan juga membeberkan “dosa” China berupa penangkapan akitvis-aktivis Ham. Para akitvis ini kemudian dimanfaatkan sebagai pekerja paksa atau dikirim ke pusat rehabilitasi narkoba. Saat ini tercatat 80 jurnalis asing maupun dalam negeri berada di balik tembok penjara China.

Yael Weisz Rind, Direktur Free Tibet Campaign dalam situs resmi mereka menyatakan China juga akan membatasi kebebasan jurnalis asing yang akan meliput olimpiade nanti. Bersamaan dengan dibangunnya kantor berita China CCTV yang baru, bangunan spektakuler ini justru dijadikan “penjara tak resmi” bagi para jurnalis asing. Kantor berita ini akan menjadi pusat pemberitaan selama olimpiade. Demikian para jurnalis tak diperkenakan “berkeliaran” mewawancarai penduduk secara bebas. Terutama di dataran Tibet. “Apa yang Beijing sembunyikan dari Tibet?”, tulis Rind.

Demonstrasi serupa juga terjadi di pertandingan liga mayor baseball, 4 Agustus lalu di New York, Toronto, Oakland, Los Angeles, Chicago, Detroit, Milwaukee, Washington, Seattle, San Diego dan Minneapolis, Amerika Serikat. “Sudah waktunya China sadar diri, para penggemar olahraga yang datang ke olimpiade Beijing mengharapkan permainan yang adil dan bebas di dalam dan luar stadium,” kata Jacob Colker, manajer demonstrasi tersebut pada AFP. Demonstrasi sengaja diadakan selama klub baseball Yankees bertanding. Klub ini memang menjadi yang pertama menyewa pemain baseball asal China, pitcher Kai Liu dan catcher Zhang Zhenwang.

“Olimpiade tak bisa menutupi kebrutalan pendudukan China atas tibet,” kata Deputi Direktur Students for Free Tibet, Tenzin Dorjee pada AFP. Dorjee menyatakan arus protes akan terus mengalir seiring persiapan olimpiade Beijing hingga tahun depan.

Ketika terpilih sebagai tuan rumah olimpiade di tahun 2003, antusiasme pemerintah maupun rakyat China terlihat luar biasa. Pemerintah China menjadikan kesempatan ini membuktikannya sebagai komitmen bagi “stabilitas masyarakat” serta olimpiade yang ramah lingkungan. Para akivis Free Tibet menuding “stabilitas masyarakat” membenarkan Tibet dibawah pemerintahan China. Sedangkan olimpiade yang hijau mengacu pada komitmen negara ini pada dunia internasional untuk mengurangi gas emisinya.

Olimpiade Beijing memang sangat simbolis. Selain Yingying si antelop Tibet, obor olimpiade pun menurut rencana akan diarak memasuki Tibet. Para atlit bagai menegaskan wilayah ini masuk dalam otoritas pemerintahan China. Mereka akan berlari melalui lembah selatan Gunung Everest. Gunung yang biasa disebut Qomalangma dalam bahasa Nepal ini adalah salah satu kebanggaan masyarakat Tibet.

Empat basecamp telah berdiri di gunung ini. Ladon Thetong dari Students for Free Tibet mengatakan pada Reuters, tim China bermaksud membawa obor olimpiade naik hingga ke puncak Everest. Protes boleh berlanjut tapi olimpiade jalan terus. Hingga kini Kementrian luar negeri China dan kantor pemerintahan mereka di Lhasa, Tibet tak mau bereaksi atas semua protes yang ada.

***

Diterbitkan Jurnal nasional, halaman jurnal internasional

Tuesday, August 21, 2007

Minat Jepang akan Asean


Pasca Perang Dunia II fokus Jepang tetap tak bergeser dari potensi Asia

Perang mampu mengubah segalanya. Sejak kalah dalam Perang Dunia II, Jepang mengubah kebijakan politik luar negerinya 180 derajat. “Kami berkomitmen tidak pernah lagi mendasari politik luar negeri atas kekuatan militer,” kata Mitsuo Sakaba, Direktur Umum Pers dan Hubungan Masyarakat Kementrian Luar Negeri Jepang.

Pada jaman PD II, Jepang membentuk kebijakan politik luar negerinya ke dalam kekuatan militer. Pada akhir abad 19 negara matahari terbit ini muncul sebagai kekuatan Asia baru, bersaing diantara negara-negara kolonial barat. Slogan yang digunakan menyiratkan perhatian utama Jepang di kawasan regional Asia. Jepang cahaya Asia, Jepang Pemimpin Asia dan Jepang pelindung Asia

“Saya beruntung berada di masa saat sejarah Asia telah ditutup dan kini kita sedang membuka lembaran-lembarannya yang baru,” kata Shinzo Abe dalam pidato politiknya di Hotel Intercontinental, Jakarta. Abe menegaskan niat Jepang bekerja sama dengan negara-negara Asia berdasarkan semangat tradisional negara ini; “saling memperhatikan dan berbagi”.

Jepang yang damai kini mendasarkan manuver politik luar negerinya dalam tiga prinsip. “Sebagai tanda bangkitnya rakyat Jepang dari trauma perang, kami menandakan kembalinya Jepang ke dunia internasional lewat diplomasi di PBB,” Dasar diplomasi pertama ini berupa solidaritas internasional Jepang lewat organisasi tersebut.

Kedua, Jepang hadir berdasarkan perjanjian damai dan keamanan dengan Amerika Serikat. Tak ada musuh sejati dalam politik selama kepentingan tak berlainan. Dukungan Amerika baru-baru ini juga terlihat dalam konflik Jepang - Korea Utara.

Jepang sebagai negara yang tetangga mengkhawatirkan instalasi persenjataan militer Korea Utara. Meski negara ini sudah mulai melucuti instalasi nuklirnya. “Mereka masih memiliki misil, yang kepala rudalnya bisa diganti dengan apa saja termasuk senjata biokimia,” kata Satoru Sato Wakil Duta Besar Jepang untuk Indonesia. Misil yang mengarah ke Jepang ini menjadi ancaman tersendiri setelah trauma bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Juni lalu, Amerika menunjukkan dukungan dengan membiarkan pesawat tempur Jepang terbang dari pangkalan militer Guantanamo. New York Times menyebutkan pesawat tersebut beberapa kali sengaja terbang melewati daerah perbatasan Jepang-Korea Utara.

Meski dua dasar politik pertama berbeda dari era PD II, Jepang tetap mendasari kepentingan politik luar negeri yang terakhir dengan fokus pada regional Asia. “Jepang selama ini mengutamakan bantuannya untuk 10 negara Asia,” kata Sakaba. Lebih dari separuh dana bantuan luar negeri Jepang juga disalurkan untuk kawasan Asia. Perdana Menteri Abe dalam pidato politiknya di sesi ke-116 parlemen Jepang menyebutkan perjanjian keamanan Amerika dan Jepang sendiri pada dasarnya mengacu pada aliansi dunia dan secara khusus: Asia.

Jepang secara resmi telah mengumumkan kebijakan luar negeri Asian Gateway. Konsep ini berdasar pada tiga hal; pembentukan Jepang sebagai negara terbuka, kerjasama dengan Asia yang terbuka serta menghormati keragaman Asia.

Fokus ini nampak jelas dalam kebijakan pemerintahan Abe. Jepang diawal pemerintahan Abe mulai “menjangkar” kerjasama dengan negara tetangga; China, Korea Selatan dan Rusia. Selanjutnya Abe kerap pula menunjukkan minat kerjasam dengan Asean, India dan Australia lewat kunjungan diplomasinya..

Ada satu dasar fundamental kebijakan luar negeri Jepang yang bertambah dalam pemerintahan Shinzo Abe. “Ia juga memfokuskan kepentingan luar negeri Jepang pada perwujudan kebebasan dan kemakmuran negara di kawasan jangkar Asia,” kata Sakaba. Kawasan jangkar dalam pengertian Abe berupa deretan kawasan regional Asia Tengah, Selatan dan Tenggara. Negara-negara ini secara geografis berjejer menyerupai bentuk jangkar bagi Jepang. Abe mempersepsikan bantuan bagi kawasan jangkar ini pada akhirnya akan berbalik mendorong kemakmuran Jepang juga. “Bagaimanapun Jepang terkenal dengan kemampuannya menyerap nilai-nilai vital bangsa lain dan mengasimilasinya menjadi milik kami sendiri,” kata Abe.

Berdasarkan kebijakan ini, tanggal 19-21 Agustus ini Abe mengunjungi Indonesia. Perjanjian kerjasama dipusatkan pada kerjasama ekonomi dan strategis keamanan. Indonesia sebagai negara dengan populasi dan wilayah geografis terbesar Asean dipandang Abe memiliki potensi memimpin kawasan regional ini. Hingga kini Indonesia menjadi negara keenam di Asean yang menandatangani perjanjian Economic Agreement Partenership (EPA).

Hubungan luar negeri Indonesia-Jepang selepas PD II dimulai 50 tahun lalu. November 1957, Perdana Menteri Nobusuke Kishi yang juga kakek dari Shinzo Abe mengunjungi Jakarta. Pertemuan Kishi-Soekarno saat itu dijadikan landasan dimulainya hubungan bilateral kedua negara.

“Indonesia-Jepang punya banyak kesamaan yang mendasari hubungan kerjasama ini,” kata Abe. Perdana Menteri asal Patai Liberal Demokrat ini menyorot filosofi gotong royong yang dianggapya serupa dengan kebiakan tradisional Jepang. Kebijakan lokal ini menurut Abe bisa tumbuh di kedua negara antara lain disebabkan posisi negara yang rentan bencana alam.

Indonesia harus bisa membawa semangat ini kedalam Asean,” tegas Abe. Jepang secara gamblang menyatakan keinginannya menjalin kerjasama bilateral dengan kawasan-kawasan regional Asia. Pemerintahan Abe menganggap Asean berpotensi menjadi kawasan utama Asia, dengan potensi keragamannya. Negara-negara Asean dianggap mampu mewakili keragaman Asia sendiri. “Kalau saya bilang orang Asia, itu berarti mereka yang berartribusi pada kekuatan Asean,” kata Abe.

Jepang memang punya banyak kepentingan di daerah ini. Dalam perdagangan internasonal Jepang tak bisa menghindari melewati kawasan Asia Tenggara. Abe juga mengakui sebagian besar sumber energi Jepang juga berasal dari kawasan Asean. Untuk itu, perjanjian Epa yang baru saja ditandatangani Abe-SBY mendukung langkah Jepang mewujudkan perjanjian Epa bilateral dengan Asean.

Untuk Asean Jepang secara khusus menyoroti masalah kesenjangan pembangunan diantara negara-negaranya. “Asean memiliki tantangan membantu Kamboja, Laos,Vietnam dan Myanmar mencapai kemajuan yang sama dengan negara-negara tetangganya,” kata Sakaba.

Jepang menerapkan program percepatan pembangunan bagi empat negara di kawsan sungai Mekong tersebut. Meski belum dianggap layak untuk mengadakan perjanjian Epa dengan Jepang, ketiganya mendapat komitmen investasi Jepang mendatang.

Dalam pengertian Abe, perjanjian Epa sendiri tak hanya menyoal masalah ekonomi. Perjanjian ini bagi Abe melandasi usaha Jepang akan membangun perdamaian di kawasan Asean. Negara ini sebelumnya telah turun tangan dalam urusan perdamaian Kamboja. Menurut rencana, Abe akan mengundang pakar-pakar Asean mengikuti pendidikan “pembangunan perdamaian” di Hroshima, Jepang. Sekolah ini berbentuk terakoya, suatu system pendidikan yang biasa digunakan pada abad 19 Jepang. Disana para pakar diharapkan dapat saling bertukar pandangan dan ilmu keamanan dan kemakmuran di Asean.

Keseriusan ini juga terwujud dalam janji kehadiran Abe di Asean Summit November depan di Singapura. “Jepang berharap Asean dapat mengurus masalah pertumbuhan demokrasi dan Ham di kawasannya, “kata Sakaba. Pertemuan tahunan Asean tersebut memang akan membicarakan arah dan strategi kebijakan Asean di masa depan. Dan Jepang berminat besar ikut ambil bagian didalamnya.

***
Dimuat di Jurnal nasional, halaman Jurnal Internasional

Di Balik Delarasi Kemerdekaan Bangsa-bangsa


Deklarasi Kemerdekaan satu bangsa dengan lainnya ternyata saling mempengaruhi

Hari kemerdekaan suatu negara berarti aneka festival mengikuti. Kembang api memecah di udara dan jalan penuh dengan pesta rakyat. Mengawali bulan Agustus, bangsa Swiss misalnya merayakan kemerdekaan mereka dengan turun ke jalan-jalan dan berdansa. Namun dibalik semua gegap gempita itu, bangsa-bangsa punya perspektif berlainan atas pengertian kemerdekaan. Masing-masing mencerminkan sejarah politik dan budaya bangsa itu sendiri. Namun pada akhirnya parafrase kemerdekaan antar satu bangsa dan lainnya kerap saling mempengaruhi.

Jepang sebagai negara kolonial yang kalah perang dunia II memandang kemerdekaan secara lebih universal. Karena tak perlu membebaskan dirinya dari jajahan bangsa lain, Jepang menerjemahkan deklarasi kemerdekaan mengacu pada Amerika Serikat yang telah mengalahkannya dalam perang.

Tadashi Aruga dalam The Declaration of Independence ini Japan: Translation and Transplation, 1854-1997 memaparkan Konstitusi Jepang di tahun 1946 berdiri atas dasar jinrui fuhen no genri atau “prinsip universal umat manusia”. Konstitusi yang mulai aktif sejak Mei 1947 ini menyatakan kemerdekaan sebagai salah satu hak dasar asasi manusia yang abadi dan tak bisa dihapuskan. Kemerdekaan diartikan sebagai hak untuk bebas, hidup dan mengejar kebahagiaan. Posisi pemerintah berubah jadi lebih demokratis; dengan otoritas yang berasal dari rakyat dan berkewajiban membawa keuntungan yang dapat dinikmati seluruh rakyat. “Deklarasi Kemedekaan Amerika Serikat meninggalkan jejak kuat dalam konstitusi Jepang, yang mereformasi dan mengenalkan suatu negara yang berada di bawah bimbingan Jenderal Douglas Mc Arthur saat itu,” tulis Aruga.

Deklarasi kemerdekaan sebenarnya telah dikenal orang Jepang sejak pertengahan abad 19. Deklarasi Meiji antara 1860 hingga 1880, mengimbas banyak ideologi barat dalam pemikiran politikus dan rakyat Jepang. Aruga menyatakan, harus diakui banyak dokumen Amerika yang menjadi inspirasi orang-orang Jepang saat itu. Salah satun inspirasi dasar menyoal “kebebasan dan hak asasi manusia”. Namun negara sakura ini lebih mengartikan kemerdekaan sebagai proses demokratisasi ketimbang artian bebas dari jajahan bangsa lain.

Menurut Aruga, deklarasi kemerdekaan Amerika pada 4 Juli 1876 menjadi inspirasi terbesar dalam restorasi Meiji. Pernyataan kemerdekaan Amerika ini memang bisa disebut sebagai salah satu tonggak sejarah dunia dimulainya demokrasi. Di lain pihak Perancis yang mendukung perang kemerdekaan Paman Sam melawan Inggris justru mengalami revolusi internal karenanya. Keputusan Raja Louis XVI untuk lebih fokus pada politik luar negeri, justru menimbulkan gelombang revolusi republik yang mendasari demokrasi modern saat ini.

Di Jepang sendiri deklarasi kemerdekaan Amerika mulai diterjemahkan pada tahun 1854. Pada tahun itu pula Amerika-Jepang menandatangani traktat pertamanya di Yokohama. Sebuan pemikiran barat akan demokrasi dan revolusi rakyat mulai merasuk dengan diterjemahkannya buku sejarah Amerika ke dalam bahasa Jepang. Namun semula buku sejarah ini diterjemahkan dari edisi yang telah ditulis dalam bahasa China.

Adalah Fukuzawa Yukichi, yang pertama kali menerjemahkan Deklarasi Kemerdekaan dan Konstitusi Amerika langsung dari dokumen aslinya. Pada 1886 semasa restorasi Meiji Fukuzawa mengenalkan dua dokumen penting Amerika pada publik Jepang. Aruga mencatat terjemahan ini laris dibeli masyarakat Jepang yang sedang haus ingin mengintip peradaban barat saat itu.

Imbas pemikiran barat ini tampak saat Jepang mulai menginvasi Asia. Sejak semula mereka telah menjanjikan kemerdekaan bagi negara-negara jajahannya. Negara ini mengusung ide “kakak tua” atas invasinya pada bangsa-bangsa Asia. Berbeda dengan kolonialisasi barat, Jepang yang telah terpengaruh deklarasi kemerdekaan Amerika justru menjanjikan pembebasan negara-negara jajahannya.

Sesaat sebelum kalah perang dalam PD II, Jepang sudah membentuk Dokuritsu Junbi Tcho o sakai atau badan persiapan kemerdekaan. Negara ini mulai mengatur kapan dan bagaimana negara-negara jajahannya menikmati kemerdekaan. Hadiah kemerdekaan ini batal diberikan, gara-gara Jepang keburu kalah perang.

“Saat Jepang kalah dalam PD II sebenarnya penerjemahan deklarasi kemerdekaan baru saja memasuki tahap kedua,” tulis Aruga. Lewat konstitusi Jepang, negara ini beralih bentuk menjadi negara yang ikut memperhitungkan sentimen publik. Jepang tentu saja tak meniru habis deklarasi Amerika. Sesuai budaya mereka, negara yang baru ini memberi tempat bagi suara rakyat berdasarkan “jalan surga” atau butsuri tendo no shizen.

Surga atau ten diposisikan sebagai sumber terciptanya rakyat dalam akar yang sama. Demikian setiap orang memliki tsugi atau hak yang tak dapat dihapus oleh siapapun. Tsugi jika dalam pemikiran barat sama artinya sebagai hak asasi manusia. Hak-hak ini antara lain jiyu atau hak memperoleh kemerdekaan dan hak untuk menikmati kebahagiaan. Dalam terjemahan Fukuzawa, disebutkan Tuhan tidak menciptakan manusia diatas manusia lainnya, namun manusia yang satu dibawah (secara keturunan dan sejarah) manusia terdahulu.

Selagi menginvasi negara-negara jajahannya, Jepang secara tak langsung ikut menyebarkan pemikiran kemerdekaan ini. Saat Jepang kalah dalam PD II di tahun 1945 terhitung negara bekas jajahannya seperti Indonesia, Korea Selatan dan Utara memerdekakan diri.

Pemikiran ini yang akhirnya diwujudkan dalam Konstitusi Jepang, memberi perspektif baru menyoal kemerdekaan. Setiap hari kemerdekaan menjelang, media-media massa kini berlomba memuat artikel yang mencoba mengartikan “merdeka” di dunia demokrasi modern. Konstitusi Jepang yang diimbas Deklarasi Amerika justru kembali mempengaruhi perspektif Paman Sam. Kini banyak kritik muncul di Amerika untuk tak terbatas memandang peristiwa kemerdekaan sebagai patriotisme semata. Sebagai empunya deklarasi yang banyak menginspirasi kemerdekaan dunia, Amerika saat ini justru harus memberikan kemerdekaan bagi para imigrannya.

Robert L. Bartley dalam Open Nafta Border? Why Not? dimuat harian Wall Street Journal dalam rangka memperingati kemerdekaan Amerika. Bartley mengkritisi kebijakan pemerintahan Bush untuk tidak lagi “menginvasi” kemerdekaan para imigran. Sebulan sebelumnya, “jalur setan” Arizona–Sorona sepanjang 25 mil menghasilkan korban 14 imigran gelap yang meninggal. Kelompok imigran ini mati akibat dehidrasi dan hanya 6 orang diantaranya selamat. Perjanjian perbatasan 1996 memang mengijinkan Amerika melipatgandakan tentara di garis demarkasi Amerika-Meksiko, hingga banyak imigran menyeludup tanpa berbekal apapun.

“Kita merayakan kemerdekaan 4 Juli dengan tanggung jawab atas imigrasi,” tulis Bartley. Menurutnya imigrasi selama ini telah mewarnai dan menyegarkan sejarah Amerika secara terus-menerus. Lagipula, memberikan kemerdekaan bagi para imigran untuk menyeberang tak harus diikuti dengan ketakutan internal. Setiap imigran yang dianggap terbelakang, tidak bersih, atau yang indentik kriminal ini menurut Bartley sebetulnya selalu mengadopsi mimpi Amerika akan kebebasan dan kemerdekaan individu. Perjanjian perbatasan hanya akan menjauhkan Paman Sam dan ideologinya dari bangsa lain. “Padahal imigrasilah yangmembentuk Amerika sebagai negara seperti sekarang ini,” tulis Bartley.

Bagai tradisi, kini kaum aktivis maupun politikus negara modern lebih memandang kemerdekaan akan tantangan yang tengah dihadapi bangsa. Hal yang sama juga tersirat dari pidato dalam peringatan kemerdekaannya 15 Agustus lalu Presiden Pathiba Patil lebih menyorot tantangan ekonomi negara ini ketimbang menyanjung kembali perjuangan kemerdekaan ala Gandhi. Merdeka memang bukan hanya soal patriotisme ataupun kebebasan dari jajahan bangsa lain.

***

Maraknya Alam Roh Asmat



Orang Asmat memperlakukan semua yang mereka sentuh dan buat sebagai mahluk hidup.




Disamping rumah adat Juu, Henrikus Set duduk bersila di tanah. Ia terus mengukir tanpa bersuara. Di dekatnya dua orang pengukir asmat melakukan hal serupa. Di tengah hembusan angin Pantai Ancol, saya melirik ke depan rumah Juu. Tigabelas pengukir Asmat asal rumpun Jora sibuk memahat segelondong kayu. Dalam diam, sesosok buaya mulai terbentuk. Para pengukir ini bagai tenggelam dalam dunianya sendiri. Pahat tetap bertalu bersahutan meski pengunjung memenuhi Festival Asmat Beorpits siang itu.


“Oh, ini patung Bijs,” kata Henrikus menunjuk karyanya.

Akhirnya saya menemukan seorang pengukir Asmat yang rela diganggu. Setelah beberapa kali diacuhkan pengukir lain asal rumpun Jora.Henrikus tak keberatan saya menyentuh karyanya yang masih setengah jadi. Patung itu terbuat dari kayu angkrak putih. Sepasang sosok perempuan dan laki-laki mulai berbentuk. Keduanya saling bertumpuk ke atas serupa totem Indian Amerika. Patung ini bukan karya seni biasa. Kayu angkrak hanya digunakan bagi patung keramat dalam upacara adat Asmat.

Henrikus menjelaskan, kedua sosok dalam patung Bijs melambangkan suami istri keluarga Asmat. Posisi bertumpuk melambangkan kesatuan mereka.

“Kemana suami pergi istri harus ikut begitu juga sebaliknya,” kata Henrikus.

Selain itu, patung Bijs juga kerap diimbuhi sesosok anak kecil dan seekor kura-kura. Kura-kura melambangkan roh kehidupan yang tumbuh di dalam keluarga tersebut.

Sambil menjawab pertanyaan saya, tangan Henrikus terus bekerja. Ia bagai tak khawatir dikejar tenggat waktu.Ia bagai tak peduli upacara adat pergaulan muda-mudi Asmat akan segera dimulai. Patung-patung karya para pengukir ini punya peranan penting dalam upacara adat tersebut. dalam setiap upacara, patung-patung ini akan dikeramatkan dan disimpan dalam Juu. Patung-patungAsmat memang kaya dalam ragam. Mereka bisa berupa bijs, salawaku, tombak, panel, kuramon atau menet.

Tapi diluar pakem bentuk patung keramat itu, duabelas rumpun Asmat masih punya gaya ukirannya sendiri.

“Selain bikin yang standar kami masih buat patung lain sesuai perasaan sendiri,” kata Henrikus, yang ternyata ketua kelompok cescuu-sebutan untuk pengukir- di desa Ambore, Akat.

Setiap patung Asmat selalu menceritakan kehidupan mereka sehari-hari. Termasuk patung yang harus dibuat sesuai pakem adat sekalipun. Siang itu, Henrikus tetap menambahkan sentuhan pribadi ke dalam patung Bijs karyanya.

“Ini perempuannya pegang kepala, sedang pusing dia,” Henrikus tertawa.

Seorang cescuu memiliki tempat tersendiri dalam struktur masyarakat Asmat. Mereka bisa dikenali dari atribut yang dikenakan. Cesscuu akan megenakan bulu kus-kus atau bulu burung di kepala, dilengkapi gelang anyaman lontar di pergelangan tangan mereka. Sebagai tambahan, identitas Cescuu juga nampak lewat tulang kasuari yang diselipkan di lengan serta pemakaian noken di dada.Asmat yang tak mengenal budaya tulisan mencatat perjalanan hidup mereka lewat patung ukiran ini.Tanpa pola apapun para cescuu menorehkan pahat mereka hingga hasil yang diinginkan terbentuk. Membuat saya teringat akan mitos pengakuan Michaelangelo saat memahat patung Raja Daud yang tersohor.

“Saya mengukir sesuai perasaan yang ada saja,” kata Henrikus.

Bagi mereka, mengukir bukan lagi untuk membentuk sebuah sosok. Seorang cescuu hanya membuang bagian yang tak perlu demi mengungkap sosok yang tersembunyi dalam sebentuk kayu.Secara filosofis, patung memang memiliki tempat istimewa dalam masyarakat Asmat. Mereka percaya semua karya seni memiliki nyawa layaknya mahluk hidup.

“Kami percaya apapun yang disentuh dan dibuat orang Asmat; air, udara atau tanah, semuanya itu punya kehidupan,” kata Amandus Anakat, Wakil Ketua Lembaga Masyarakat Adat Asmat.

Berdasarkan keyakinan ini etnis Asmat percaya hutan, rumah, patung dan alam sekeliling mereka adalah hidup. Dan semuanya hidup berdampingan dalam suatu keseimbangan. Keseimbangan ini dipaparkan Antropolog Alphonse A. Sowada, yang menyatakan dasar kosmologi Asmat berlandaskan pada kepercayaan bahwa seluruh manusia, baik manusia, hewan, karya seni atau tanaman digerakkan oleh kekuatan lain berupa roh. Jika roh ini pergi maka hilang pula kehidupan didalamnya.

Tak heran jika etnis Asmat berupaya agar roh ini tetap tinggal. Mereka kerap menambahkan nama-nama leluhur di depan nama sendiri. Lewat upacara adat, kekuatan para leluhur itu diharapkan ikut merasuk seiring pemberian nama tambahan.Berdasarkan prinsip ini pula patung-patung Asmat mendapatkan namanya masing-masing. Mereka diperlakukan layaknya manusia di dalam rumah Juu. Menurut Sowada, orang Asmat sangat khawatir kalau-kalau roh itu sampai pergi meninggalkan mereka. Roh akan diyakini akan meninggalkan “rumahnya” jika tak diurus dengan baik.

“Makanya orang Asmat tak pernah menyepelekan barang apapun,” tegas Amandus.

Sebenarnya, ada tiga kepercayaan dasar dalam kepercayaan Asmat; kelahiran manusia, memasukkan roh dan menjaga kehidupan. Dalam kelahiran seorang bayi, etnis Asmat percaya roh Yuwus dan Ndamup datang merasuk. Saat anak ini semakin dewasa, maka roh Ndet akan datang dan menggerakkan kehidupan orang Asmat itu.Yuwus dipercaya menggerakkan tubuh manusia dan berdiam di sekitar pusar manusia. Daerah pusar ini diyakini sebagai pusat emosi seperti marah, benci, cinta dan perasaan lainnya. Jika tali tipis yang terhubung antara Yuwus ke pusar manusia terputus, maka nyawa yang bersangkutan pun ikut melayang.

Sementara peranan Ndamup, adalah memberikan kekuatan bilokasi pada manusia Asmat. Mereka menyebutnya sebagai kekuatan bayangan seorang manusia. Ketika orang itu tidur, Ndamup akan keluar dan berkeliaran. Roh ini seringkali dikira manusia sesungguhnya, berkat kekuatan menjiplak habis rupa manusia yang didiami. Ndamup ini sebenarnya berperan sebagai penjaga manusia Asmat dari bahaya. Jika ia dibunuh saat berkeliaran orang Asmat percaya manusia yang didiami roh itu akan meninggal dalam tidur.

Tapi kehidupan seorang Asmat juga belum lengkap jika Ndet belum datang. Roh ini diyakini sebagai arwah leluhur yang sengaja merasuki keturunannya. Ndet akan memberikan kekuatan hidup dan kepribadian pada orang tersebut. Biasanya jika umur seorang anak belum setahun, maka masyarakat sekelilingnya akan terus-terusan menyebut nama Ndet yang diyakini akan merasuk si anak. Mereka berharap tindakan ini bisa menyelamatkan kehidupan anak kecil yang masih rapuh.

Etnis Asmat percaya tanaman juga didiami roh. Pohon bisa tumbuh hanya karena ada roh yang menggerakkannya. Kepercayaan ini salah satunya terlihat dari mantra dan doa yang diucapkan setiap kali memotong pohon sagu.

“Kami biasanya bilang; pohon biarlah airmu sedikit dan sagunya banyak, sambil mengayun-ayunkan kapak,” kata Martinus Akaisanam, Panitia Festival Beorpits Asmat.

Doa harapan ini terus diucapkan sampai proses penebangan pohon sagu itu selesai.Begitu pula saat sebuah tanaman mati sebelum panen. Alih-alih meyalahkan hama atau gulma, orang Asmat beranggap roh di dalam tanaman tersebut tak cukup kuat menyangga kehidupan. Keyakinan ini terlihat setiap kali orang Asmat menanam benih. Dalam kegiatan bercocoktanam, mereka melakukan ritual pemberian roh pada tumbuhan. Setelah itu ia dibiarkan tumbuh tanpa campur tangan manusia. Jika ternyata rumput liar tumbuh jauh lebih banyak dibanding tanaman itu, maka kesalahan bukan terletak pada mereka. Roh yang diberikan dianggap tak cukup kuat mengalahkan gangguan gulma yang menghabiskan sari makanan dari bumi.

Walhasil, hutan rimbun pun menjadi gudangnya para roh dalam kepercayaan animisme Asmat.Berdasarkan keyakinan ini, orang Asmat tak pernah melakukan persetubuhan di dalam rumah.

“Pamali,” kata Amandus.

Sepasang suami istri akan pergi ke hutan, dimana banyak roh yang mampu memberikan kesuburan. Ketika bayi Asmat telah lahir, ia juga akan diberikan roh lagi untuk menjaga kesehatannya hingga beranjak dewasa. Anak-anak dan bayi ini akan dibesarkan tersendiri dalam rumah Enakcep. Rumah yang didirikan dari tulang binatang ini akan menerapkan program “penitipan” anak sesuai keputusan para pemuka adat.

“Bagaimana anak itu mau dididik, terserah keputusan tetua,”kata Amandus.

Sang anak akan lulus dari Enakcep setelah ia menginjak akil balik. Bagi para lelaki dewasa yang masih membujang, mereka tak diperbolehkan lagi kembali ke rumah orang tua. Para bujangan Asmat ini akan hidup berkumpul dalam rumah Juu. Jumlah marga para penghuninya dilambangkan dengan banyaknya tungku di dalam rumah. Akibatnya, rumah ini sering disebut sebagai rumah bujang. Rumah ini juga menjadi pusat kegiatan dimana ritual adat dilakukan.

“Di rumah Juu para tetua akan putuskan segala hal termasuk apakah akan mengayau atau tidak,” kata Amandus.

Mata ganti mata, gigi ganti gigi. Jika sebuah kampung memutuskan akan megnayau kampung lain, maka resiko yang sama harus mereka terima.

“Jika kedua kampung sama-sama sudah kehilangan orang akibat diayau, berarti semuanya impas,” kata Amandus.

Praktek mengayau pun berhenti dan kedua tetua kampung akan bertemu. Ritual mengayau secara unik berbalik menjadi jembatan persaudaraan.

“Mereka akan jadi saudara kami dan tak akan pernah ada lagi mengayau,” tegas Amandus.

Agama dan pemerintahan modern boleh hadir tapi adat tetap nomor satu. Bagai lagu lama, etnis Asmat layaknya etnis tradisional lain di Indonesia tetap kukuh memihak pada adat. Berdasarkan data Departemen Agama, sampai Juni 2007 sebagian besar etnis Asmat menganut agama Katolik dan Protestan. Namun praktek poligami tetap lazim dilakukan. Meski kedua agama teresebut tak mengijinkannya. Dalam adat Asmat praktek poligami menjadi simbolisasi keperkasaan seorang lelaki.

“Bagaimanapun adat itu agama kami yang pertama,” Amandus, yang beristri sembilan orang pun menjelaskan.

Namun sebagai penyeimbang, kini etnis Asmat tak lagi melakukan ritual perang suku setelah menerima agama pendatang dan pemerintahan modern.

“Buat apa bunuh-bunuhan, kami ini sama-sama orang Papua. Kulit sama hitam, rambut sama keriting,” tegasnya.

***

Dimuat Jurnal Nasional, Oase budaya

Wednesday, August 15, 2007

Kunjungan Abe Tetap Efektif

Dibawah tekanan politik dalam negeri, PM Jepang Shinzo Abe tetap mengunjungi Indonesia. Bersama rombongan Abe juga akan hadir 150 pengusaha atas Jepang. Anggota rombongan ini berasal dari kalangan pengusaha otomotif dan elektronik Jepang dibawah koordinasi Keidanren, kamar dagang Jepang.

"Kunjungan kali ini adalah rombongan terbesar yang pernah dibawa Abe," kata Satoru Sato, Wakil Duta Besar Jepang untuk Indonesia. Sato juga menyatakan kekalahan Partai Liberal Demokratik di Jepang tidak akan mempengaruhi efektivitas kunjungan luar negeri Abe.

Partai Liberal Demokratik dan koalisinya Partai Komeito saat ini masih memegang mayoritas dua pertiga suara Majelis rendah. "Perjanjian EPA (Economic Partnership Agreement) dan kerjasama lainnya dengan Indonesia merupakan urusan Majelis rendah, jadi kekalahan Abe di Majelis Tinggi tidak akan berpengaruh," tegas Sato. Rencana EPA ini sebelumnya telah dimulai dengan kunjungan kenegaraan Presiden SBY dengan Abe di Tokyo November 2005.

Dalam kunjungan selama tiga hari, Shinzo Abe antara lain akan fokus pada upaya peningkatan kerjasama di bidang strategis, penandatangan EPA dan kerjasama ekonomi kedua negara. Perjanjian kerjasama ini akan mendukung Strategic Investment Action Plan (SIAP) yang sebelumnya telah ditandatangani Perdana Menteri Koizumi dan Presiden SBY Juni 2005. Selain itu berkaitan dengan konferensi lingkungan hidup internasional di Bali Desember mendatang, kunjungan Abe juga akan membicarakan masalah lingkungan hidup dan pemanfaatan energi. Juru bicara istana kepresidenan Dino Pattidjalal menyatakan akan ada joint statement antara Indonesia-Jepang mengenai masalah ini.

"Jepang kaya dengan teknologi dan sistem marketing, sangat berguna jika digabung dengan kekayaan alam Indonesia," kata Sato. Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), saat ini Jepang memiliki 13% dari total investasi asing di Indonesia. Sementara Indonesia saat ini masih berada di peringkat 11 negara tujuan investasi luar negeri Jepang.

Kementrian Perdagangan Jepang mendata jumlah ekspor Indonesia di tahun 2006 ke negara matahari terbit ini mencapai $ 21.7 milyar, dengan impor dari Jepang sejumlah $ 5.5 milyar. Dalam neraca perdagangan bilateral ini Indonesia surplus dengan sebagian besar ekspor berupa bahan mentah dan setengah jadi. Namun data Bussines Facts and Figures menyatakan tahun 2005 ekspor terbesar Indonesia ke Jepang masih berupa bahan bakar mineral sebesar 51 persen. Ekspor lainnya berupa bahan mentah non metal sebesar 15,4 %, peralatan elektronik 5.8 %, barang manufakturing 12.5% dan lainnya 10.4 persen.

"Kami akan membantu tenaga kerja Indonesia meningkatkan keahliannya,"kata Sato. Menurutnya transfer keahlian ini dapat dilakukan lewat program pelatihan tenaga kerja Indonesia yang bekerja di perusahaan Jepang. Kedutaan besar Jepang untuk Indonesia menyatakan tren investasi ke Indonesia telah membaik, setelah mengalami penurunan 30 persen selepas krisis ekonomi 1998. Perdagangan Jepang-Indonesia di tahun 2006 yang sejumlah 27.2 milyar, menurut Kementrian Perdagangan Jepang sebagai yang terbesar dalam 4 tahun terakhir. Jumlah ini menempatkan Jepang sebagai patner dagang utama Indonesia dengan jumlah aktivitas dagang 17 persen dari seluruh perdagangan internasional Indonesia.

Menunjang pertumbuhan perdagangan regional Asia, Jepang juga akan menyumbangkan 3 kapal perang untuk Indonesia guna menambah armada patroli di Selat Malaka. Sumbangan ini berdasarkan Regional Cooperation Agreement on Combating Piracy and Armed Robery against Ships ion Asia (ReCAAP) yang disepakati Koizumi- SBY dua tahun lalu. Dalam pertemuan itu, SBY menegaskan keseriusan Indonesia menjamin keamanan kegiatan perdagangan di Selat Malaka.

Sementara hasil kerjasama Indonesia-Jepang dalam Epa antara lain akan menghapuskan pajak ekspor Indonesia ke Jepang sebanyak 92 %, dan pajak ekspor Jepang ke Indonesia sebesar 90%. Pembebasan pajak ini akan diberlakukan bertahap paling lama dalam jangka waktu 10 tahun. Sementara komoditi ekspor yang sensitif seperti produk-produk agrikultur tetap akan dikenai pajak.

Menurut Sato iklim investasi Indonesia yang membaik serta tedensi pemerintah guna menarik investor asing menyebabkan pemerintah Jepang mau bereaksi positif. "Iklim investasi Indonesia saat ini kami anggap sejajar dengan Singapura, Brunei dan Malaysia," kata Sato. Sebelumnya ketiga negara tersebut telah melaksanakan perjanjian EPA dengan negeri Sakura ini.

Meski demikian, Sato meminta pemerintah Indonesia terus meningkatkan iklim investasinya. Halangan investasi Jepang di Indonesia menurutnya antara lain berupa rumitnya sistem pajak dan bea cukai, undang-undang tenaga kerja dan kurangnya infrastruktur transportasi.

Dimuat di Jurnal Nasional, Halaman Muka

Monday, August 13, 2007

Dayak Bergesek Jaman


Taman Ismail Marzuki terik siang itu. Alih-alih lemas atau mengantuk sekelompok penari Dayak justru setia berlatih. Kelompok seniman asal Kalimantan Timur ini sengaja datang ke ibukota untuk tampil dalam apresiasi seni dan pertunjukkan di Plaza Senayan. Kesempatan bagi saya yang seumur hidup belum pernah bertemu dengan etnis Dayak.

“Inilah orang Dayak yang masih terbelakang dan suka makan orang ini,” Indra Beheng, Kepala Adat Besar Dayak Modang bercanda. Mengikuti pria bermata sipit dan berkulit kuning itu, kelompok penari lainnya mengenalkan diri.

Saya datang bersama Deddy Luthan, koreografer tari yang pernah meneliti budaya Dayak Kenyan. Namun hari itu saya justru berkenalan dengan etnis Dayak Kayan dan Modang asal Kalimantan Timur.Etnis Dayak memang bagaikan Indonesia kecil. Menurut antropolog J.U Lontaan, etnis ini terdiri dari enam rumpun besar; Kenyan-Kayan-bahau, Ot Danum, Iban, Murut, Klemantan dan Punan. Rumpun tersebut masih terbagi lagi ke dalam 405 sub etnis yang kini tersebar di seluruh hutan Borneo.

Masing-masing sub etnis memiliki kepercayaan maupun budayanya sendiri. Suku Dayak yang berasal dari Kalimantan Barat umumnya menganut agama Kaharingan yang berbeda dengan subetnis Dayak Modang.

“Etnis Dayak yang mana?”, tanya Deddy saat tahu saya berniat menelaah Dayak.

Seperti filosofi agama asli etnis Dayak lainnya, Dayak Modang percaya jika peradaban mereka berkembang atas keseimbangan manusia dengan hukum alam. Manusia dan alam harus hidup berdampingan. Alasannya sederhana. Indra Bengeh menyatakan jika agama lokal mereka berkaitan erat bahkan tergantung dengan hutan dan alam sekitar. Ritual-ritual upacara hanya dapat dilakukan dengan memanggil keluar para roh maupun arwah leluhur keluar dari hutan.

“Makanya tak mungkin kami merusak hutan,” tegasnya.

Kepercayaan lama suku Dayak meyakini dunia dan isinya atau Diegselieng Dea diciptakan oleh seorang Metae. Tapi tetap saja, keyakinan Dayak tak bisa begitu saja di pandang sebagai satu warna. Untuk Metae saja jika ditinjau dari kuasa sudah memiliki banyak makna. Metae Taesoo akan diartikan Yang Maha Kuasa pemberi hidup manusia dan mahluk lain di dunia. Metae Tae Gaeng, sebagai yang berkuasa menentukan baik buruknya kehidupan. Metae Te Weaa, yang menentukan tuntutan dan bimbingan bagi kehidupan. Sementara Metae Tae Nyie berarti yang berkuasa menghindarkan bencana bagi manusia.

Tae Nyie ini kerap dipuja dalam ujud proses Sekaeng, berupa monolog pujaan pada yang maha kuasa dan arwah leluhur. Pengertian Metae juga berakhir dalam tahap akhir hidup manusia, dengan hadirnya sosok Metae Tae Seit sang penentu kematian.

Keragaman kepercayaan etnis Dayak ini juga terlihat dari perbedaan nama ritual-ritual mereka. Untuk menyelenggarakan tradisi mengayau misalnya, orang Dayak Modang biasa menyebut upacara inisiasi ini sebagai sementara Dayak Mali menyebutnya sebagai Meski pada dasarnya upacara tersebut memiliki makna yang hampir sama.

“Tapi meski berbeda-beda kami semua tetap orang Dayak,” kata Indra.

Hampir serentak, gumaman persetujuan terdengar dari anggota lain. Anggota rombongan lain sedari tadi memang mencuri dengar percakapan kami. Namun mengikuti etika Dayak yang menghormati tetua, sebelumnya tak ada yang berani menyela.Tep Guen, sekretaris Adat besar Dayak Modang lebih lanjut menjelaskan rasa persaudaraan ini jelas nampak dalam konflik etnis Madura-Dayak di Kalimantan Tengah tahun 2001.

“Orang Dayak Iban dari Serawak ikut datang membantu,” katanya. Meski terpisah secara hukum negara, etnis Dayak Iban mendatangi Kalimantan Tengah layaknya membantu saudara yang sedang ditimpa kemalangan.Rasa persaudaraan ini tak hadir tiba-tiba. Orang Dayak percaya leluhur mereka berasal dari gelombang imigrasi jaman Kerajaan Ming. Berdasarkan legenda, dua manusia bernama “Kit” dan “Kut” menyeberangi lautan menuju pulau yang kini menjadi Borneo. Di tengah hutan mereka kemudian beranak cucu

“Mereka seperti Adam dan Hawa dalam kepercayaan kami,” kata Indra.

Etnis Dayak percaya pertama-tama kedua leluhur ini menetap di Apo Kayan dimana cikal bakal Dayak mulai terbentuk. Berkembangnya sub-sub etnis dayak akhirnya membuat mereka saling berbagi wilayah.

Dalam filofosofi Dayak, tanah warisan leluhur memang memegang peranan penting. Wilayah dayak menjadi simbol martabat etnis yang bersangkutan. Merebut wilayah menurut Indra berarti menginjak-injak martabat mereka. Wilayah yang diakui etnis Dayak secara tradisional adalah tanah adat. Akibatnya secara tak langsung batas birokrasi negara resmi tak berlaku disini.

“Kami masyarakat adat, jadi hukum adat jugalah yang berlaku,” tegas Indra.

Secara jujur Indra menyatakan hukum adat lebih berperan penting dalam masyarakat Dayak daripada hukum negara.Hidup di tengah masyarakat modern, etnis Dayak mau tak mau mengalami pergesekan jaman. Pergesekan dengan hukum modern terutama terlihat dalam batas wilayah serta tradisi mengayau.

“Saya terakhir mengayau tahun 2004,” kata Indra.

Tawanya meledak melihat saya spontan menggeser badan.

“Jangan takut, saya tidak akan tiba-tiba mengayau kepala kamu,” katanya.

Indra menyatakan tradisi mengayau bukanlah kebiasaan primitif seperti banyak manusia modern sering melabelinya. Seorang laki-laki Dayak hanya diakui dewasa jika telah menjalani upacara inisiasi ini. Bahkan di masa lalu mereka tak diijinkan menikah sebelum melakukan upacara nelem.Dalam upacara ini lelaki etnis Dayak beserta tetua adat akan masuk hutan. Selama upacara itu pula mereka akan menjalani puasa.

“Kesatriaan seorang lelaki diuji saat itu, dengan berupaya mengejar orang yang masih hidup untuk diambil kepalanya,” kata Indra.

Memotong kepala orang juga tak sembarang dilakukan. Upacara dilakukan justru untuk menghormati arwah pemilik kepala. Mereka dianggap mati terhormat. Orang Dayak akan menggantungkan kepala itu diatas bara api hingga tinggal tengkorak lalu mendoakannya. Pelaku ngayau kerap kali berada dalam keadaan trans dalam situasi ini.

“Yang mengayau biasanya kerasukan arwah dari kepala itu,” kata Tep Guen.

Saat itu kekuatan pemilik kepala dipercaya beralih pada mereka yang melakukan ritual Akibatnya orang yang paling sering jadi sasaran mengayau adalah panglima atau orang yang dianggap paling kuat dalam kelompok tertentu.

Sangat mudah untuk melihat apakah laki-laki Dayak telah mengayau atau belum.Selepas ritual, pelaku ngayau akan diperkenankan mengenakan bulu burung enggang di kepala. Semakin sedikit bulu enggang yang ada, berarti semakin sering pula ia menjalani upacara ini.

Saya langsung melirik topi yang dikenakan Indra. Hanya ada selembar bulu enggang. Dan ini bukan karena Indra enggan melakukan tradisi leluhurnya tersebut. Tep Guen menyatakan saat terakhir melakukan tradisi mengayau, mereka didatangi seorang perwira menengah.

“Ia minta kami tidak mengayau lagi tapi itu tradisi kami,” katanya.

Tarik-menarik argumen pun terjadi. Indra yang bergelar master hukum dari Universitas Gadjah Mada lantas berargumen pada amandemen UUD 45 yang melindungi hukum adat. Sebagai Camat Busang, Indra lantas meminta pemerintah membiarkan adat mengayau tetap dilakukan. Lagipula menurutnya mengayau hanya diambil sebagai jalan terakhir menyelesaikan perselisihan ketika lainnya menemui jalan buntu.

Pergesekan pun tak hanya terjadi dalam hukum negara. Kepercayaan lokal dan ritualnya juga kerap bertentangan dengan agama impor.

“Misalnya dalam ritual yang percaya akan banyak dewa bertentangan dengan agama yang percaya pada satu Tuhan,” kata Yusriadi, seorang Dayak yang kini memeluk Islam.

Bagi agama-agama pendatang ritual upacara Dayak yang magis adalah okultisme. Beberapa orang Dayak yang telah memeluk agama lain akan mengurangi ritual mereka. Namun Indra, Tep Guen atau Yusriadi tetap menjalankan ritual leluhur mereka.

“Ritual ini sudah jadi semacam kebiasaan dalam masyarakat kami, sangat sulit untuk menghilangkannya,” kata Yus.

Paling tidak bagi Yus, beberapa ritual dayak semisal pengobatan sebagai bentuk ikhtiar manusia dalam ajaran Islam. Begitu pula dengan Indra yang beragama Khatolik. Ia tetap setia menjalan ritual-ritual Dayak Modang. Menurutnya agama merupakan pandangan hidup, sementara ritual upacara berposisi sebagai bagian kehidupan bermasyarakat. Berdasarkan prinsip ini jugalah Indra bermaksud mengajukan tuntuan pada Bupati Kutai Timur. Ritual Dayak yang biasa memanggil keluar para roh dan arwah leluhur kini hampir tak bisa dilakukan.

“Hutan tempat roh atau kuburan nenek moyang kami habis dijadikan kebun kelapa sawit,” katanya.

Selama ini, kearifan lokal Dayak telah menjalankan keseimbangan hutan. Mereka melakukan ladang berpindah dalam pola melingkar secara periodik 20-40 tahun. Semata agar hutan dapat mengembalikan kerimbunannya. Namun investasi pertambangan dan kelapa sawit di Kalimantan Timur mengganggu keseimbangan itu.

”Hutannya habis kami mau memanggl roh keluar dari mana?”, kata Indra.

Kondisi masyarakat Dayak kini memang berbeda dibandingkan masa leluhur mereka. Etnis Dayak banyak tak lagi tinggal di pedalaman hutan. Hutan Borneo yang mulai rusak sejak tahun 1970-an serta arus imigrasi mengubah tatanan hidup mereka. Etnis Dayak kecuali Punan dan Bukat umumnya telah membuka diri terhadap kehidupan modern.

“Memang ada orang Dayak yang merelakan tanah adat demi uang. Tapi saya ini bisa pensiun jadi camat tapi tidak sebagai orang Dayak,” tegas Indra.

***
Diterbitkan untuk Jurnal Nasional, halaman Oase budaya

Sunday, August 12, 2007

Dua Korea Berdamai


Perundingan damai Korea seharusnya tak hanya menyoal politik, nuklir dan ekonomi saja.

Tahun 2000 lalu kedua pemimpin Korea saling bertukar anak anjing. Presiden Korea Selatan saat itu Kim Dae Jung memberikan dua ekor anak anjing asli Korea pada presiden Korea Utara. Namun tukar-menukar anjing ini bukan karena kedua istana kepresidenan ingin memeriahkan suasana protokolernya.

Kim memberikan dua ekor anak anjing berwarna putih tersebut sebagai lambang dimulainya perundingan damai kedua Korea. Anak anjing ras asli Korea ini diberi nama Persatuan dan Kemerdekaan. Mereka lalu menjadi penghuni tetap Gedung Biru, istana kepresidenan Korea Utara.

Sebaliknya, Kim Jong Il memberikan dua ekor anak anjing pemburu ras Jindo, yang diberi nama Damai dan Penyatuan Kembali. Menurut BBC, anak-anak anjing tersebut menjadi simbol pertemuan damai yang memecahkan kebekuan perang Korea.

Selain itu, pertukaran anak anjing ini juga melambangkan legalisasi perdagangan kedua negara Korea. Lima tahun lalu seorang pedagang Korea Selatan membawa seekor anak anjing Jindo dan menjualnya ke seorang warga Korea Utara yang tinggal sekitar 200 mil darinya. Anak anjing ini lalu melarikan diri dan kembali ke rumahnya di Korea Selatan. Kelakuan anjing jindo ini melambangkan keinginan masyarakat kedua negara melewati perbatasan 4 kilometer tank dan kawat berduri dan memulai perdagangan secara timbal balik.

Secara teknis perang Korea sebetulnya memang tak pernah berakhir. Kedua Korea yang terpecah karena ideologi ini mulai tegang ketika Tanjung Onjin mulai diperebutkan. Masing-masing pihak juga memiliki versinya masing-masing.

Situs korea-np menyatakan Korea Selatan yang didukung Amerika Selatan menjadi pihak yang memulai invasi tanjung tersebut. Sebaliknya situs CIA menyatakan Pasukan Rakyat Korea (KPA) mencetuskan Perang Korea bersama dukungan pasukan sukarelawan China.

Ditelusuri dari sejarah, kedua Korea memang terpecah atas campur tangan asing. Sejak runtuhnya kekaisaran Korea, negara ini mulai diaduk-aduk kekuasaan asing. Jepang sempat menjajah Korea selama 35 tahun. Ketika Jepang mulai kalah perang dalam PD II, bangsa-bangsa Asia yang berada di bawah jajahannya mulai didaftar untuk diberi kemerdekaan.

Namun untuk kasus Korea, Jepang yang kalah perang tahun 1945 harus merelakan jajahannya pada sekutu. Dua kubu ideologi besar dalam sekutu saat itu, Amerika dan Soviet lantas membagi wilayah Korea menjadi Utara dan Selatan.

Pada tahun 1948, masing-masing Korea mendeklarasikan kemerdekaannya. Meski demikian dukungan asing tetap kental diantara keduanya. Perpecahan kedua Korea tak bisa dielakkan atas nama perbedaan ideologi. Buntut-buntutnya pada 1950 terjadi konflik perbatasan. Meski berulang kali pertemuan damai diadakan diantara keduanya, kesepakatan sebenarnya tak pernah tercapai. Perundingan demakarsi di Panmujon tahun 1953 akhirnya ditolak Korea Selatan atas dukungan tentara komando PBB. Walhasil hingga kini kedua Korea masih berada dalam status perang.

Bagai refleksi Soviet-Amerika, Korea pun mengalami perang dingin. BBC menulis, perundingan damai di tahun 2000 beserta pertukaran simbolis anak anjing ini bagai “mencairkan es yang beku”. Kim Dae Jung yang mempelopori persetujuan damai ini pun akhirnya diberi penghargaan nobel perdamaian.

Associted Press menyatakan, perundingan damai ini turut mencairkan ribuan proyek kerjasama ekonomi diantara keduanya. Perbatasan Korea tak lagi menakutkan dan tak haram untuk dilewati lagi. Perdamaian tak hanya akan membuat politik luar negeri keduanya lebih stabil namun turut melancarkan perekonomian.

Kini pemimpin Korea Utara dan Selatan kembali bertemu 8 Agustus lalu. Pertemuan ini terjadi setelah Pyong Yang memulai pembongkaran instalasi nuklirnya. Pyong Yang menerima 950 ribu ton minyak sebagai gantinya. Selain itu, Amerika Serikat juga menjanjikan pencairan dana simpanan Korea Utara di luar negeri.

Selanjutnya Presiden Korea Utara Kim Jong Il akan menjamu Presiden Korea Selatan Roh Moo-Hyun di Pyong Yang tanggal 28-30 Agustus mendatang. Pertemuan tersebut mungkin akan menjadi embrio perdamaian yang menyelesaikan Perang Korea. “Kim juga bermaksud berlibur ke pulau Jeju di akhir Oktober nanti,” kata Rhee Q-Taek, mantan intelejen Korea Selatan pada Korea Herald. Keputusan berlibur ini melambangkan kecairan hubungan keduanya, mengingat Pulau Jeju merupakan pulau wisata terkenal di Korea Selatan.

“Rusia mendukung keputusan damai Korea, dan kami terutama mendukung Korea Utara mencapai kemajuannya,” kata Alexander Ivanova, Duta Besar Rusia di Indonesia. Mewakili sikap Rusia Ivanova menegaskan, apapun yang terjadi di masa lalu lebih baik dilupakan dan mengajak Korea memulai lembaran baru dengan damai.

Perundingan damai Korea memang tak hanya melibat kedua Korea saja. Sebenarnya ada enam pihak yang terlibat. Amerika dan Jepang berada di belakang Korea Selatan sementara Korea Utara didukung Rusia dan China. “Namun pengaruh Rusia kini berbeda dengan besarnya pengaruh Amerika pada Korea Selatan,” kata pakar politik Korea asal Amerika, Aidan Foster Carter pada BBC. Perundingan damai Korea menurutnya akan lebih banyak dipengaruhi oleh kubu Amerika maupun China. Sementara Soviet yang telah terpecah, hanya bisa mewujudkan sikapnya lewat Rusia.

Peranan kini lebih berada di tangan China. Negara yang terbuka sejak jaman Den Xiao Ping ini lebih memandang masalah Korea pada dari segi ekonomi. Greg Torode dalam editorial South China Morning Post misalnya menyatakan perundingan ini akan menolong Korea Utara masuk ke dalam dunia modern. Optimisme reaksi Korea Selatan akan pembongkaran nuklir Korea dianggap sebagai pertanda baik bagi masa depan perekonomian Korea Utara.

“Normalisasi hubungan kedua korea telah membuat isu nuklir Korea Utara menjadi jelas,” kata Cheon Ho-sun, juru bicara presiden Korea Selatan, Roh Moo Hyun pada AP. Mewakili Roh, Ho-sun menyatakan perundingan damai ini akan membuka kesempatan kerjasama internasional lebih luas lagi bagi Korea Utara.

Namun keuntungan bukan hanya bagi Korea Utara saja. Menurut BBC, perundingan damai ini juga akan menguntungkan posisi Presiden Korea Selatan dalam stabilitas politik negaranya. Roh yang tidak popular di negaranya akan tertolong isu ini dalam pemilu Desember mendatang. Grand National Party (GNP),partai konservatif Korea memang telah berulang kali mengritik Roh. Ia dianggap tidak terlalu mempedulikan perjuangan damai Kim Daeng Jun sebelumnya. Meskipun kini Korea telah bersedia membongkar instalasi nuklirnya.

“Perundingan damai juga seharusnya tidak hanya harus mengurusi proyek nuklir Korea Utara saja,” kata Foster-Carter. Menurutnya guna mengakhiri perang korea secara resmi, perundingan juga harus membahas masalah perbatasan, perdagangan dan kerjasama ekonomi kedua negara. Secara khusus Foster-Carter juga menegaskan kedua Korea harus memperhatikan rehabilitasi sosial. Banyak penduduk yang terpisah dari keluarganya sejak 1953 gara-gara perbatasan kedua Korea.

Editorial suratkabar Moskow, Kommersant juga menyatakan banyak analisis politik di Rusia yang bersikap skeptis. Mereka yakin pada perundingan akhir Agustus nanti Seoul akan terus mengejar penyelesaian pembongkaran instalasi nuklir Korea Utara. “Hal itu membuat perundingan nanti tidak akan membawa kemajuan yang nyata (dalam upaya damai Korea),” tulis Kommersant. Diluar masalah ekonomi dan politik, masalah sosial yang nyata terjadi selama perang dingin kedua Korea juga harus ikut dipedulikan. Hingga kini BBC mencatat belum ada rehabilitasi sosial yang nyata di desa Pamungjom, tempat dimana perang Korea memuncak di tahun 1953.

Ditulis untuk Jurnal Nasional edisi harian, halaman Jurnal Internasional