Tuesday, March 4, 2008

Monaco, Negara Tanpa Masalah Lingkungan

Monaco mungkin satu-satunya negara di dunia yang tak memiliki masalah lingkungan. Mulai dari situs CIA hingga ke catatan PBB, negara ini tak terdokumentasikan bermasalah dengan polusi apapun. Bahkan asap knalpot pun tak tercium disini. Meski dengan GDP perkapita US $ 30 ribu, penduduk negara Grimaldi tersebut dijamin mampu memiliki kendaraan pribadi.

Jalan-jalan di Monte Carlo, Monaco memang mulus tanpa retakan sedikit pun. Namun tetap saja jarang mobil terlihat di sana. Bahkan dalam jam-jam sibuk sekalipun, penduduknya terlihat lebih senang berjalan kaki. Mengikis jejak emisi karbon yang biasanya banyak dihasilkan dari kendaraan bermotor di kota-kota dunia. Para pejalan kaki memang dimanja disini.

Kemewahan ini saya rasakan sendiri saat akan menyeberang dari tempat konferensi UNEP di Forum Grimaldi menuju Hotel Fairmont. Saya sengaja menunggu mobil sport Peugeot coklat muda yang akan melintas. Kebiasaan ini terbawa dari Jakarta, kota dimana para pejalan kaki harus memiliki mawas diri yang tinggi jika ingin selamat.

Alih-alih langsung melaju, mobil itu justru ikut berhenti. Tak terasa sekitar 3 menit kami saling tunggu. Akhirnya saya tersadar dan buru-buru menyeberang. Sambil melewati mobil itu, saya lambaikan tangan berterima kasih.

Iseng-iseng, saya perhatikan jalan raya Monte Carlo selama perjalanan dari hotel tempat menginap di Nice, Prancis. Pada jam-jam sibuk, mobil yang melintas tetap dapat dihitung dengan jari. Jalan baru ramai saat iring-iringan mobil Kepala Negara Monaco, Pangeran Albert II melintas.

Monaco telah lama dikenal sebagai negara Eropa yang pro lingkungan. Tata kota dengan jalan sempit berkelok diimbuhi tata kota yang apik, membuat penduduknya lebih senang berjalan kaki. Berbanding terbalik dengan biaya hidup yang tinggi, tarif transportasi umum Monaco justru murah. Hanya dengan 1 Euro saya sudah dapat berkeliling negara ini bahkan menyeberang ke Nice, Prancis.

Kenyamanan ini berasal dari kebijakan Pemerintah Monaco memberikan subsidi tinggi pada tarif angkutan umum. Hasilnya terlihat pada 2007, saat jumlah pengguna transport umum negara itu meningkat hingga 20 %.

Kebijakan pro lingkungan Monaco juga berlaku lewat peraturan Haute Qualite Environnementale alias Kualitas Tinggi Lingkungan Hidup. Kebijakan ini mengharuskan setiap bangunan di Monaco menghemat 10 persen dari energi yang digunakan. Penghematan ini dihitung terutama lewat pemakaian energi listrik dan konsumsi air. Contoh paling nyata terlihat lewat Gedung Forum Grimaldi tempat konferensi UNEP diselenggarakan. Semua keran air disini bersifat otomatis, yang langsung berhenti saat tangan diangkat dari wastafel.

Manajemen antisipasi bencana juga terlihat lewat infrastruktur yang menguatkan tembok-tembok batu karang di seluruh Monaco. Secara sejarah, Moncao yang dikuasai Dinasti Grimaldi telah dekat dengan isu penyelamatan lingkungan. Pangeran Albert I terkenal aktif dalam pencegahan penangkapan ikan berlebih. Sementara Pangeran Albert II yang kini berkuasa kerap mengunjungi Kutub Utara guna mengecek langsung dampak pemanasan global.
Kesadaran lingkungan berpadu dengan kekuatan dana, telah membuat udara, air dan tanah Monaco sebersih hutan perawan.

***
Dimuat di Jurnal Nasional Halaman Internasional

No comments: